logo

(024) 8507891

fh@mail.unnes.ac.id

Sekaran Gunungpati

Kota Semarang, 50229

07:00 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

123 456 789

info@example.com

Goldsmith Hall

New York, NY 90210

07:30 - 19:00

Monday to Friday

Menjadi Fakultas Hukum Berwawasan Konservasi, Bereputasi Internasional, dan Berkarakter Pancasila

Konservasi dan Unnes 2035

AMAZING! Itulah kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan saya ketika mengikuti focus group discussion (FGD) dengan tema “Menjawab Tantangan Unnes 25 Tahun Mendatang dalam Rangka Penyusunan Rencana Induk Pengembangan (Renip) Unnes 2010-2035, di kampus Sekaran, 26 Oktober lalu.

Harap maklum, saya sebenarnya orang yang kurang berkompeten untuk menghadiri acara bergengsi yang notabene kelas para pejabat dan tim perumus universitas. Namun saya sangat bersyukur mendapat kesempatan itu, meski bisa dibilang dalam bahasa gaul mengalami roaming.

Saat itu pikiran saya melayang membayangkan Unnes 25 tahun mendatang. Impian dan khayalan saya tentang Unnes pada tahun 2035 mulai terbentuk. Belum lagi dikukuhkan dengan penyajian materi oleh Prof Dr Dodi Andika tentang Unnes menjawab tantangan mendatang dan isu-isu strategis perguruan tinggi pada tahun 2035: bidang kelembagaan, akademik, sumber daya manusia (SDM), sarana-prasarana, kemahasiswaan, keuangan, pengembangan, dan kerja sama.

Sebuah pikiran yang sangat sederhana muncul dari dalam otak saya. Begitu pemaparan tentang Renip yang didahului dengan foto Rektor Unnes sedang bersepeda dan terlihat di belakangnya banyak pohon pohon rindang dan tinggi menjulang, teringatlah saya pada visi universitas ini. Sesuai dengan visi Unnes untuk menjadi universitas konservasi bertaraf internasional, yang sehat, unggul, dan sejahtera pada tahun 2020, yang apabila kita hubungkan dengan Renip, perlu ada pemahaman secara hakiki tentang konservasi. Sebab, roh visi tersebut adalah katakonservasi.

Karena itu, perlu pemahaman yang mendalam dan sama bagi setiap orang mengenai konservasi yang dimaksud dalam visi Unnes. Gambaran atau definisi itu perlu dibuatkan poin-poin untuk memperjelas definisi konservasi, sehingga dengan adanya pemaknaan mendalam yang diejawantahkan dalam penyusunan Renip didukung secara konkret oleh setiap elemen di Unnes dengan merencanakan sesuai dengan bidang masing-masing.

Pada hakikatnya konservasi ini mempunyai definisi yang beraneka ragam. Karena itu, untuk dapat mewujudkan visi Unnes yang merupakan roh dalam setiap perumusan rencana apa pun di Unnes, merupakan keharusan untuk merumuskan definisi konservasi secara lebih konkret.

Redefinisi

Konservasi sesungguhnya berasal dari kata conservation yang terdiri atas katacan (together) dan servare (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Sedangkan menurut Rijksen (1981), konservasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural di mana dulu upaya konservasi lebih buruk daripada sekarang. Selain itu, konservasi dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi di mana dapat meliputi sumber daya alam hayati.

Perlu kiranya untuk merumuskan konservasi ini secara terperinci dan bermakna menyeluruh di segala bidang sehingga fakultas dapat menentukan peran serta secara konkret untuk mewujudkan Unnes  menjadi universitas konservasi. Apabila pemahaman kita terbatas bahwa konservasi itu meliputi keanekaragaman sumber daya hayati, tidak setiap elemen di universitas ini dapat mendukung secara penuh.

Apabila konservasi itu dimaknai sebagai penjagaan atas apa yang sudah kita punyai secara bijaksana dengan tidak menutup kemungkinan adanya evolusi kultural, akan jelaslah langkah yang harus kita tempuh untuk kali pertamanya dalam rangka penyusunan dan pelaksanaan Renip. Definisi yang menyeluruh seperti itu akan mendorong untuk dapat terbentuknya academic culture yang notabene menjadi salah satu tantangan abad ke-21, selain menjaga kelestarian alam di sekitar kita.

Perubahan budaya akademik yang dalam wacana ini saya rumuskan sebagai bagian dari definisi konservasi itu merupakan hal yang cukup penting untuk mewujudkan Unnes tidak hanya sebagai Unnes konservasi tetapi juga bertaraf internasional. Terbentuknya academic culture yang baik terkait erat dengan research academic yang menjadi salah satu ciri penting bagi world class university. Akan tetapi untuk dapat membentuk academic culturedan research culture dengan baik, perlu ada evolusi budaya terutama dalam hal ini budaya ewuh pakewuh/seniority, khususnya dalam bidang keilmuan dan pentingnya membudayakan berani bicara tentang kebenaran (to teel the truth).

Evolusi budaya itu bukanlah hal mudah. Saya analogikan sebagaimana budaya hukum yang sudah ada sekarang. Untuk melakukan perubahan, perlu perjuangan yang sangat keras, bahkan kalau boleh meminjam istilahnya Prof Dodi: sampai berkeringat darah karena ini artinya menerjang gelombang. Dalam melakukan evolusi budaya, perlu dukungan semua pihak yang merupakan warga Unnes. Budaya akademik perlu dirintis baik di tiap lingkungan fakultas maupun universitas sehingga akan banyak riset/penelitian/karya ilmiah yang dihasilkan demi terwujudnya Unnes sebagai conservation world classuniversity.

-Cahya Wulandari, dosen Fakultas Hukum Unnes

sumber: unnes.ac.id

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Saiyek Saeka Praya

Pekerjaan berat dilakukan dengan kebersamaan pasti akan terasa ringan (Saiyek saeka praya)

Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si

Guru Besar

2016-03-14T15:19:08+00:00

Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si

Guru Besar

Pekerjaan berat dilakukan dengan kebersamaan pasti akan terasa ringan (Saiyek saeka praya)

Strategi Hidup

Ketenangan, Kesabaran dan Keikhlasan untuk Ibadah Adalah Awal Kebahagiaan Yang Sesungguhnya

Dr. Rodiyah, S.Pd.,S.H.,M.Si

Dekan

2016-03-14T15:19:18+00:00

Dr. Rodiyah, S.Pd.,S.H.,M.Si

Dekan

Ketenangan, Kesabaran dan Keikhlasan untuk Ibadah Adalah Awal Kebahagiaan Yang Sesungguhnya