logo

(024) 8507891

fh@mail.unnes.ac.id

Sekaran Gunungpati

Kota Semarang, 50229

07:00 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

123 456 789

info@example.com

Goldsmith Hall

New York, NY 90210

07:30 - 19:00

Monday to Friday

Menjadi Fakultas Hukum Berwawasan Konservasi, Bereputasi Internasional, dan Berkarakter Pancasila

Deradikalisasi Pelaku Teror

PERHATIAN publik menanggapi peristiwa teror di Jakarta pada minggu lalu telah bergeser ke deradikalisasi. Lembaga pemasyarakatan (Lapas) yang sekarang ini menjadi satu-satunya lembaga tempat resosialisasi pelaku teror dipertanyakan akan efektivitasnya. Banyak pihak menilai lembaga ini sudah tidak mampu lagi melakukan upaya deradikalisasi terhadap pelaku teror, di penjara narapidana terorisme bukan menyesal dan mempunyai kemauan kembali ke masyarakat akan tetapi menjadi semakin profesional dan radikal.

Kesimpulan demikian tentunya tak lepas dari fakta yang terjadi, bahwa yang diduga menjadi dalang pengeboman di Jakarta (14/01/2016) yaitu Bahrun Naim dan pelaku teror Afif merupakan alumni Lapas Nusakambangan Cilacap. Penulis pernah mengunjungi salah satu LP di Nusakambangan.

Ketika waktu shalat zuhur, beberapa narapidana melakukan shalat berjamaah, dan di masjid tersebut bercampur semua napi. Kejadian ini memang seperti buah simalakama, di satu sisi ibadah adalah hak asasi manusia yang harus dihormati, di satu sisi terkadang dijadikan sarana perekrutan dan cuci otak (brain wash) narapidana ke arah radikalisasi. Dalam kasus ini pemisahan menjadi penting.

Membaca tulisan Ali Masyhar Mursyid (SM, 18/01/2016) tentang memangkas penularan teror, di mana terorisme tidak bisa diberantas dengan hanya mengandalkan upaya penal, yaitu melalui pendekatan hukum pidana, akan tetapi harus dibarengi dengan upaya nonpenal yang akan memangkas sel-sel terorisme dari sumbernya, oleh karena itu sudah saatnya negara ini fokus dalam upaya penanggulangan terorisme melalui berbagai jalur. Negara tidak boleh hanya berfokus pada upaya penal. Tanggapan pemerintah yang terdengar akhir-akhir ini adalah akan melakukan revisi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme.

Dalam revisi itu salah satunya akan memberikan kewenangan penangkapan sementara terhadap orang yang diduga terkait persiapan terorisme, juga ada wacana dalam revisi tersebut tentang pemberian kewenangan kepada Badan Intelijen Negara (BIN) untuk melakukan penangkapan dan penahanan. Tanggapan yang demikian itu merupakan tanggapan reaktif dan tidak memberikan solusi jangka panjang penanggulangan tindak pidana terorisme.

Suka atau tidak suka, aksi terorisme di Indonesia dari mulai bom Bali sampai bom Thamrin sudah memakan ratusan korban jiwa, tidak bisa dilepaskan dari pemahaman yang salah terhadap tafsir agama. Orang cenderung radikal karena mempelajari ayat dengan sepenggalpenggal dan tidak komprehensif. Oleh karena itu upaya deradikalisasi sangat urgen, apalagi sekarang pelaku teror mendapatkan angin segar ketika IS dideklarasikan di perbatasan Syria dan Iraq.

Pemahaman Sempit

Deradikalisasi merupakan upaya menghilangkan radikalisme. Orang yang radikal cenderung menggunakan caracara kekerasan dalam mencapai tujuannya. Ketika radikalisme berbalut dengan fundamentalisme agama maka akan semakin sulit dilakukan deradikalisasi. Hal ini karena keyakinan bahwa radikalisme yang dilakukannya merupakan perintah agama.

Upaya perekrutan anggota baru juga dibalut dengan pemahaman agama yang sempit. Lihat saja propaganda yang dilakukan Salim Al Mubarok Attamimi Al Indonesiy yang mengaku sebagai panglima IS Indonesia melalui video Youtube. Makna jihad di sini dimaknai sempit dan menjadikan pelaku teror yakin bahwa yang dilakukannya merupakan perintah agama dan akan mendapatkan surga.

Padahal maknanya sangat luwes dan luas. Tidak ada kaitannya dengan kekerasan. Makna jihad bukan hanya berangkat perang, akan tetapi bisa juga berangkat menuntut ilmu, berangkat kerja demi menafkahi anak dan istri dan lain-lain. Selama ini upaya deradikalisasi mungkin telah dilakukan pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. Akan tetapi proses deradikalisasi yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan terkesan gagal.

Sehingga diperlukan cara lain dalam melakukan deradikalisasi terhadap para narapidana terorisme. Upaya deradikalisasi dapat dilakukan dengan menghapuskan sifat radikal orang yang sudah terkena “virus” radikalisme, seperti orang-orang yang sudah telanjur radikal, telanjur menjadi pelaku terorisme. Selain itu melakukan upaya pembatasan penyebaran gerakan radikal. Pembatasan ini di antaranya melakukan pemahaman kepada generasi muda terutama terkait agama yang sangat menjunjung kedamaian

sehingga terhindar dari radikalisme. Sekarang bagaimana upaya deradikalisasi terhadap narapidana terorisme? Narapidana terorisme merupakan orang yang pernah terlibat melakukan tindak pidana terorisme, sehingga kondisi orangnya pasti sudah mempunyai pemahaman yang matang dan hati yang kuat terkait apa yang dilakukan (teror).

Jika faktor radikalnya karena pemahaman agama, maka tidak bisa disembuhkan, tidak bisa dilakukan deradikalisasi dengan pendekatan ilmu lain selain agama. Misalnya ilmu sosial, ilmu psikologi dan lain-lain. Karena nanti pasti akan dibantah dengan ayat-ayat suci dan hadis yang disalahartikan, makna yang cenderung radikal.

Oleh karena itu pendekatan yang harus dilakukan adalah pendekatan dialog keagamaan (ilmu agama), adu argumentasi pemaknaan ayat suci, sehingga pemahaman yang selama ini diyakini benar menjadi pupus dan sadar ternyata pemahaman selama ini adalah salah. Salah satu lembaga yang selama ini merupakan gudang ilmu agama secara komprehensif adalah pondok pesantren. Tentunya bukan pondok pesantren yang didirikan oleh mereka yang berpaham radikal.

Akan tetapi pondok pesantren yang didirikan oleh ulama nusantara yang dulu para santrinya ikut aktif dalam upaya merebut kemerdekaan bangsa ini, pondok pesantren yang berwawasan kebangsaan. Pondok pesantren inilah yang bisa melakukan upaya deradikalisasi. Tidak ada salahnya para pelaku terorisme setelah menjalani masa penjara kemudian proses asimilasinya dilakukan di pondok pesantren.

Sehingga pemahaman radikalnya runtuh. Selain itu, ketika narapidana terorisme masih di dalam penjara, para ulama pondok pesantren yang andal dan bisa melakukan dialog tentang agama dengan baik dan komprehensif harus dilibatkan secara aktif, sehingga permasalahan pendangkalan pemahaman agama dapat patah dan upaya deradikalisasi berajalan dengan baik.(50)

Muhammad Azil Maskur S.H, M.H,

Dosen Bagian Pidana Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang.

Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Suara Merdeka – 25 Januari 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Saiyek Saeka Praya

Pekerjaan berat dilakukan dengan kebersamaan pasti akan terasa ringan (Saiyek saeka praya)

Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si

Guru Besar

2016-03-14T15:19:08+00:00

Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si

Guru Besar

Pekerjaan berat dilakukan dengan kebersamaan pasti akan terasa ringan (Saiyek saeka praya)

Strategi Hidup

Ketenangan, Kesabaran dan Keikhlasan untuk Ibadah Adalah Awal Kebahagiaan Yang Sesungguhnya

Dr. Rodiyah, S.Pd.,S.H.,M.Si

Dekan

2016-03-14T15:19:18+00:00

Dr. Rodiyah, S.Pd.,S.H.,M.Si

Dekan

Ketenangan, Kesabaran dan Keikhlasan untuk Ibadah Adalah Awal Kebahagiaan Yang Sesungguhnya