logo

(024) 8507891

fh@mail.unnes.ac.id

Sekaran Gunungpati

Kota Semarang, 50229

07:00 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

123 456 789

info@example.com

Goldsmith Hall

New York, NY 90210

07:30 - 19:00

Monday to Friday

Agenda
  1. Seminar Nasional: Pengawasan Keimigrasian Dalam Pengendalian Radikalisme Dan Terorisme

    November 1 @ 8:00 AM - 5:00 PM
  2. Lawblillity#2

    3 November 2017 @ 8:00 AM - 29 April 2018 @ 5:00 PM
  3. KOMPETISI CERDAS CERMAT (KCC) 50th ASEAN : Unity in Diversity

    November 23 @ 12:00 AM - 11:59 PM

Saiyek Saeka Praya

Pekerjaan berat dilakukan dengan kebersamaan pasti akan terasa ringan (Saiyek saeka praya)

Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si

Guru Besar

2016-03-14T15:19:08+00:00

Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si

Guru Besar

Pekerjaan berat dilakukan dengan kebersamaan pasti akan terasa ringan (Saiyek saeka praya)

Strategi Hidup

Ketenangan, Kesabaran dan Keikhlasan untuk Ibadah Adalah Awal Kebahagiaan Yang Sesungguhnya

Dr. Rodiyah, S.Pd.,S.H.,M.Si

Dekan

2016-03-14T15:19:18+00:00

Dr. Rodiyah, S.Pd.,S.H.,M.Si

Dekan

Ketenangan, Kesabaran dan Keikhlasan untuk Ibadah Adalah Awal Kebahagiaan Yang Sesungguhnya
Loading Events

« All Events

Seminar Nasional: Pengawasan Keimigrasian Dalam Pengendalian Radikalisme Dan Terorisme

November 1 @ 8:00 AM - 5:00 PM

SEMINAR NASIONAL DAN CALL FOR PAPER DIES NATALIS FAKULTAS HUKUM UNNES KE-10

 TERM OF REFERENCE PENGAWASAN KEIMIGRASIAN DALAM PENGENDALIAN RADIKALISME DAN TERORISME”

LATAR BELAKANG

Radikalisme dan Terorisme akhir-akhir ini seringkali kita dengar baik melalui media massa maupun media elektronik. Dalam salah satu tulisan BNPT dikatakan bahwa  radikalisme merupakan embrio lahirnya terorisme. Radikalisme merupakan suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekeraan (violence) dan aksi-aksi yang ekstrem. Ada beberapa ciri yang bisa dikenali dari sikap dan paham radikal : 1) intoleran (tidak mau menghargai pendapat & keyakinan orang lain), 2) fanatik (selalu merasa benar sendiri; menganggap orang lain salah), 3) eksklusif (membedakan diri dari umat Islam umumnya) dan 4) revolusioner (cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan).

Sikap dan pemahaman yang radikal dan dimotivasi oleh berbagai faktor di atas seringkali menjadikan seseorang memilih untuk bergabung dalam aksi dan jaringan terorisme. Dari beragam definisi baik oleh para pakar dan ilmuwan maupun yang dijadikan dasar oleh suatu negara, setidaknya memuat tiga hal: pertama, metode, yakni menggunakan kekerasan; kedua, target, yakni korban warga sipil secara acak, dan ketiga tujuan, yakni untuk menebar rasa takut dan untuk kepentingan perubahan sosial politik. Karena itulah, definisi yang dijadikan dasar oleh negara Indonesia dalam melihat terorisme pun tidak dilepaskan dari tiga komponen tersebut.

Radikalisme dan terorisme sudah lama ada sejak awal kemerdekaan. Pada masa Orde Lama penanggulangan terorisme dilaksanakan dengan pendekatan keamanan melalui operasi militer dengan basis UU Subversif demikian juga pada masa Orde Baru yang mana penekanannya pada operasi intelejen.  Pengaturan mengenai terorisme dan radikalisme pada era sekarang ini lebih mengedepankan pada aspek penegakan hukum misalnya UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Selanjutnya pada tahun 2010, Pemerintah mengeluarkan Perpres No. 46 Tahun 2010 tentang pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang pada tahun 2012 diubah dengan Perpres No. 12 Tahun 2012. Pembentukan BNPT merupakan kebijakan negara dalam melakukan terorisme di Indonesia sebagai pengembangan dari Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme (DKPT) yang dibuat pada tahun 2002.

Meskipun sudah ada payung hukum yang mengatur radikalisme dan terorisme namun demikian perkembangan ancaman terorisme dan radikalisme  di Indonesia semakin marak terjadi. Mulai dari penyerangan ke tempat-tempat yang dianggap milik asing secara berkelompok sampai dengan sekarang ini ke instansi pemerintah yang dilakukan secara lone wolf.  Berdasarkan data yang ada banyak dari mereka yang mendapatkan pelatihan di luar negeri, hasil dari pelatihan tersebut mereka ajarkan kembali kepada simpatisan. Daerah pedalaman dan hutan menjadi tempat mereka berlatih. Berdasarkan hal tersebut diperlukan pengawasan dan penegakan hukum untuk mencegah mereka keluar maupun masuk ke wilayah Indonesia. Pengawasan ini merupakan kewenangan dari pihak imigrasi. Meskipun demikian untuk menekan radikalisme dan terorisme perlu adanya koordinasi dan kerjasama antar lembaga terkait misalnya Densus 88, Bareskrim POLRI, BNPT dan tentunya pihak Imigrasi.

Informasi lebih lanjut KLIK INI dan INI

Details

Date:
November 1
Time:
8:00 AM - 5:00 PM
Website:
http://fh.unnes.ac.id

Organizer

Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang
Phone:
(024) 8507891
Email:
fh@mail.unnes.ac.id
Website:
http://fh.unnes.ac.id

Venue

Hotel Grasia Semarang
Jl. S. Parman No.29, Gajahmungkur, Semarang Selatan
Kota Semarang, Jawa Tengah 50231 Indonesia
+ Google Map
Phone:
(024) 8444777
Website:
https://www.hotelgrasia.com/